
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini ekonomi Indonesia bakal tumbuh hingga 6 persen pada 2026, melebihi target dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026 sebesar 5,4 persen. Keyakinan Purbaya tersebut didasarkan pada semakin sinkron dan sinerginya hubungan pemerintah dengan Bank Indonesia (BI).
“Walaupun di APBN 5,4 persen ya, saya akan paksa dorong ke 6 persen. Dan probability itu terjadi semakin terbuka lebar, karena kami semakin sinkron dengan bank sentral,” kata Purbaya kepada wartawan, dikutip Kamis (1/1/2026).
Purbaya berpandangan, telah memiliki bekal yang memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tembus 6 persen, sehingga dinilai tidak sulit untuk digapai. Bekal tersebut adalah perkembangan sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter yang belakangan dinilai lebih sinergi.
Hal itu kaitannya dengan kebijakan penempatan dana SAL dari BI ke himpunan bank negara alias himbara. Diketahui, sejak 12 September 2025 lalu, Purbaya menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 200 triliun di lima perbankan pelat merah, yakni Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing Rp 55 triliun, BTN sebesar Rp 25 triliun, dan BSI Rp 10 triliun.
Penempatan dana ke perbankan kembali dilakukan, yakni pada 10 November 2025 senilai Rp 76 triliun, yang diberikan kepada Mandiri, BNI, dan BRI masing-masing Rp 25 triliun, serta Bank Jakarta Rp 1 triliun. Namun, Purbaya mengakui realisasi kebijakan tersebut belum optimal.
“Kebijakan injeksi uang yang kita taruh di sistem perbankan itu enggak seoptimal yang saya duga seperti estimasi saya sebelumnya. Harusnya ekonomi lari lebih cepat karena ada sedikit ketidaksinkronan kebijakan antara kami dengan Bank Sentral,” terangnya.
Ketidaksinkronan itulah yang menurut penuturan Purbaya telah dibereskan dalam satu bulan terakhir. Sehingga, dengan kesinkronan yang diciptakan pemerintah bersama BI, ekonomi diprediksi akan bisa tumbuh lebih tinggi.
Purbaya mengonfirmasi, pemerintah telah menarik dana Rp 75 triliun dari total Rp 276 triliun dana yang sebelumnya ditempatkan di himbara dan BPD. Sehingga saat ini dana pemerintah yang diparkir di perbankan masih sekitar Rp 201 triliun.
Langkah tersebut dilakukan Purbaya sebagai upaya mempercepat perputaran uang di sistem perekonomian melalui realisasi belanja pemerintah. Dana yang ditarik tersebut menjadi stimulus langsung ke masyarakat.
“Jadi dampaknya ke ekonomi mungkin lebih positif. Dua minggu terakhir, Bank Sentral sudah mendukung kebijakan kami, artinya uang akan semakin banyak di sistem perekonomian. Jadi enggak usah takut ekonmi kita akan melambat. Saya bisa berbicara lebih yakin bahwa tahun depan bisa 6 persen,” terangnya.
Purbaya Tetap Yakin Pertumbuhan Bakal Tembus 6 Persen, Ini Pemicunya
Sumber Eknomi
No comments:
Post a Comment