Pages

Wednesday, March 11, 2026

IPC TPK Catat Arus Petikemas Tumbuh 8,7 Persen pada Awal 2026

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Aktivitas logistik pada awal Ramadhan tetap menunjukkan tren positif di berbagai wilayah operasional IPC Terminal Petikemas (IPC TPK).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Aktivitas logistik pada awal Ramadhan tetap menunjukkan tren positif di berbagai wilayah operasional IPC Terminal Petikemas (IPC TPK). Hingga Februari 2026, perusahaan mencatat arus petikemas sebesar 600.416 TEUs, meningkat 8,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara bulanan, kinerja arus petikemas pada Februari 2026 juga menunjukkan tren positif. IPC TPK mencatat arus petikemas sebesar 300.525 TEUs, tumbuh 10,6 persen dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 271.521 TEUs. Capaian ini mencerminkan aktivitas logistik yang tetap terjaga di berbagai wilayah operasional perusahaan pada awal tahun.

Corporate Secretary IPC TPK, Pramestie Wulandary, mengatakan IPC TPK terus melakukan penguatan operasional terminal untuk memastikan kelancaran arus petikemas, khususnya pada periode Ramadhan dan menjelang libur Lebaran.

"Kami juga mendukung kebijakan pembatasan operasional angkutan barang dengan melakukan penyesuaian pola operasional serta mengimbau pengguna jasa untuk mengatur kegiatan pengiriman dan pengambilan petikemas lebih awal," ujar Pramestie.

Menurutnya, IPC TPK terus melakukan optimalisasi fasilitas terminal serta peningkatan produktivitas peralatan bongkar muat di berbagai area operasional.

Selain itu, perusahaan juga memperkuat penerapan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk memastikan setiap aktivitas operasional berjalan aman, efisien, dan berkelanjutan.

Kontribusi terbesar terhadap arus petikemas masih berasal dari terminal di kawasan Tanjung Priok. Hingga Februari 2026, arus petikemas di Tanjung Priok 1 tercatat mencapai 208.198 TEUs, meningkat sekitar 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 182.727 TEUs.

Advertisement

Adblock test (Why?)


IPC TPK Catat Arus Petikemas Tumbuh 8,7 Persen pada Awal 2026
Sumber Eknomi

Bahlil Ingin Campur Bioetanol dalam BBM, Petani Singkong Happy

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Arifin Lambaga menilai pengembangan bioetanol berbasis singkong berpotensi meningkatkan ekonomi petani. Menurutnya, kebijakan energi yang melibatkan komoditas tersebut dapat membuka pasar baru bagi petani di berbagai daerah.

MSI baru saja mendapat undangan dari pemerintah untuk membahas peran singkong dalam mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. Pemerintah tengah mendorong optimalisasi sumber energi domestik di tengah meningkatnya risiko pasokan energi global.

“Dan ini tentu akan membawa peningkatan ekonomi bagi masyarakat karena singkong rata-rata diusahakan oleh masyarakat,” kata Arifin saat ditemui di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan rencana pengembangan bioetanol berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar campuran etanol dalam bensin. Dalam skema E10, kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan mencapai sekitar 1,4 juta kiloliter per tahun.

Pemerintah meminta MSI menyiapkan perencanaan produksi singkong yang dapat dikonversi menjadi bioetanol. Perencanaan tersebut masih membuka kemungkinan penggunaan bahan baku lain sesuai kebutuhan industri.

“Jadi kami masih diminta membuat perencanaan untuk kebutuhan. Karena kita tahu kebutuhan nasional dengan E10 itu kira-kira 1,4 juta kiloliter per tahun,” ujar Arifin.

Produksi singkong nasional saat ini berkisar 14 juta ton per tahun. Komoditas tersebut juga digunakan untuk berbagai kebutuhan lain, seperti pangan, pakan ternak, serta industri pengolahan tapioka.

Jika seluruh kebutuhan bioetanol dipenuhi dari singkong, kebutuhan bahan baku diperkirakan cukup besar. Perhitungan konversi menunjukkan setiap liter bioetanol membutuhkan beberapa kilogram singkong segar.

“Konversinya rata-rata untuk satu liter bioetanol membutuhkan sekitar 5 sampai 7 kilogram singkong segar,” kata Arifin.

Ia menilai peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk memenuhi potensi kebutuhan bahan baku tersebut. MSI mendorong optimalisasi lahan serta peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul dan dukungan pupuk.

Produktivitas singkong nasional saat ini berada pada kisaran 25 hingga 27 ton per hektare. Dengan perbaikan teknologi budidaya dan penggunaan varietas unggul, produktivitas dinilai berpeluang meningkat hingga sekitar 40 sampai 50 ton per hektare.

“Produksi, yang penting itu varietas dari benih, kemudian kedua pupuk,” ujar Arifin.

Ia berharap pengembangan bioetanol dapat melibatkan petani secara luas dalam rantai pasok bahan baku energi tersebut. Dengan keterlibatan petani, kebijakan bioetanol berpotensi menciptakan pasar baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani singkong di berbagai daerah.

Adblock test (Why?)


Bahlil Ingin Campur Bioetanol dalam BBM, Petani Singkong Happy
Sumber Eknomi