Pages

Tuesday, March 24, 2026

IHSG Berpotensi Menguat Usai Libur Lebaran, Ini Sentimen Utamanya

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom keuangan dan praktisi pasar modal Hans Kwee memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak menguat pada perdagangan Rabu (25/3), seusai libur panjang Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri 2026. Ia menyebut salah satu sentimen utama yaitu kabar terbaru dari konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, di mana Presiden AS Donald Trump menyatakan menunda selama lima hari serangan militer ke pembangkit listrik dan fasilitas energi Iran.

"Pembukaan IHSG di hari Rabu dibayangi potensi tekanan jual, tetapi pulihnya pasar keuangan pasca penundaan serangan Trump ke infrastruktur listrik dan energi Iran membuka peluang IHSG bergerak terbatas dengan support di level 7.100 sampai 7.000 dan resistance di level 7.250 sampai 7.349," ujar Hans saat dihubungi di Jakarta, Selasa (24/3/2026).

Selama libur panjang Lebaran, Hans menjelaskan pasar keuangan global mengalami volatilitas tinggi akibat ketidakpastian perang antara AS dan Israel melawan Iran.

Trump memberikan ancaman akan menghancurkan fasilitas listrik di Iran apabila Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam.

Menanggapi ancaman itu, Iran membalas dengan ancaman akan menghancurkan infrastruktur energi dan minyak di kawasan Teluk apabila fasilitas listrik negaranya diserang.

Pada akhirnya, pada Senin (23/3), Trump mengatakan akan menunda selama lima hari serangan militernya ke pembangkit listrik dan fasilitas energi di Iran.

Pernyataan Trump tersebut mendorong bursa saham di Wall Street, AS, dan bursa saham Eropa mengalami penguatan pada perdagangan Senin (23/3).

"Pasar ekuitas Uni Eropa menguat setelah penundaan serangan Trump. Kawasan Uni Eropa dan Asia sangat terpengaruh harga energi karena ketergantungan pada impor melalui Selat Hormuz," ujar Hans.

Namun demikian, Hans menyebut pernyataan Trump tentang pembicaraan konstruktif untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah telah dibantah oleh Iran, dan Iran telah meluncurkan serangan baru ke Israel serta beberapa lokasi di Timur Tengah.

sumber : ANTARA

Advertisement

Adblock test (Why?)


IHSG Berpotensi Menguat Usai Libur Lebaran, Ini Sentimen Utamanya
Sumber Eknomi

Perang Iran Guncang Energi Asia, Negara-Negara Kembali ke Batu Bara

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Negara-negara Asia mulai beralih kembali ke batu bara sebagai respons atas terganggunya pasokan minyak dan gas akibat perang di Iran, yang menghambat pengiriman energi global melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.

Ketergantungan tinggi kawasan ini pada impor energi, khususnya gas alam cair (LNG), membuat banyak negara rentan terhadap gangguan pasokan. LNG selama ini dipromosikan sebagai bahan bakar transisi yang lebih bersih dibanding batu bara dan minyak. Namun, konflik geopolitik terbaru memaksa sejumlah negara untuk kembali mengandalkan batu bara guna menjaga ketahanan energi.

India, misalnya, meningkatkan produksi batu bara untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik selama musim panas. Korea Selatan (Korsel) mencabut pembatasan penggunaan listrik berbasis batu bara ketika pasokan LNG terbatas.

Sementara itu, Indonesia memilih memprioritaskan penggunaan batu bara domestik, dan negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Filipina, serta Vietnam mempercepat operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Langkah-langkah ini dinilai sebagai solusi jangka pendek untuk menutup kekurangan energi.

Namun, para pakar memperingatkan peningkatan penggunaan batu bara dapat memperburuk polusi udara di kota-kota besar, memperlambat transisi menuju energi terbarukan, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global. Menurut mereka batu bara adalah solusi darurat, tetapi energi terbarukan tetap menjadi jawaban jangka panjang.

"Krisis seperti ini menjadi peringatan nyata,” kata Julia Skorupska dari Powering Past Coal Alliance, Selasa (24/3/2026).

Batu bara memang menjadi bagian penting dalam strategi energi darurat di Asia. Ketersediaannya yang melimpah di kawasan menjadikannya cadangan utama ketika pasokan gas terganggu atau energi terbarukan belum mampu memenuhi kebutuhan.

Pakar energi dari Duke University Sandeep Pai menyebut batu bara sebagai “penyangga” dalam situasi krisis. Cina, sebagai konsumen dan produsen batu bara terbesar dunia, telah meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara ke tingkat tertinggi sejak 2021 demi memperkuat keamanan energi. Meski demikian, negara tersebut juga terus memperluas kapasitas energi bersihnya untuk mengimbangi kebutuhan.

India, yang merupakan konsumen batu bara terbesar kedua, diperkirakan akan semakin bergantung pada batu bara untuk memenuhi puncak permintaan listrik yang dapat mencapai 270 gigawatt. Negara itu memiliki cadangan batu bara untuk sekitar tiga bulan ke depan, dengan sebagian stok dialokasikan untuk usaha kecil.

Di tengah krisis, pengiriman energi tetap berlangsung, meski terbatas. Dua pengiriman gas minyak cair (LPG) India dengan total lebih dari 92.700 ton dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz. Namun, pasokan tersebut kemungkinan akan diprioritaskan untuk sektor industri seperti produksi pupuk, bukan pembangkit listrik.

Pendukung batu bara menilai peran bahan bakar ini masih krusial. Michelle Manook dari FutureCoal mengatakan tanpa batu bara, dampak kekurangan energi akan jauh lebih parah. Ia menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi untuk menghadapi krisis di masa depan.

Namun, para peneliti iklim mengingatkan ketergantungan berulang pada batu bara justru dapat memperkuat kerentanan jangka panjang. Pauline Heinrichs dari King’s College London mencontohkan bagaimana Cina meningkatkan penggunaan batu bara saat kekeringan mengurangi kapasitas pembangkit listrik tenaga air, langkah yang justru memperburuk emisi dan memperkuat siklus krisis.

Indonesia, sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, turut memperparah tekanan pasar dengan memprioritaskan pasokan domestik. Menurut analis energi dari Energy Shift Institute Putra Adhiguna, kebijakan ini berpotensi memperketat pasokan regional dan mendorong kenaikan harga global.

sumber : AP

Adblock test (Why?)


Perang Iran Guncang Energi Asia, Negara-Negara Kembali ke Batu Bara
Sumber Eknomi