Pages

Sunday, May 10, 2026

Biaya Admin e-Commerce Meningkat, Ini Penjelasan idEA

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Pedagang mempromosikan produknya melalui siaran langsung online di toko Wstudio Little Bangkok, Pasar Tanah Abang, Jakarta, Jumat (8/8/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) angkat bicara mengenai isu keluarnya penjual dari e-commerce atau lokapasar akibat meningkatnya biaya administrasi. Ketua Umum idEA Hilmi Adrianto menyampaikan perubahan pada struktur biaya layanan merupakan bagian dari proses menuju ekosistem e-commerce yang lebih berkelanjutan.

"Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan industri ini banyak ditopang oleh subsidi. Namun ke depan, perlu ada keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan, baik bagi platform maupun penjual," ujar Hilmi saat dihubungi Republika di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Sebagai enabler, ucap Hilmi, platform e-commerce terus berinvestasi dalam teknologi, logistik, pembayaran, serta perlindungan konsumen.

Dia menyampaikan seluruh layanan tersebut memiliki biaya operasional yang tidak kecil sehingga penyesuaian model bisnis menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan layanan.

"idEA memahami perubahan kebijakan dapat berdampak pada pelaku usaha dan kami mendengarkan setiap masukan yang diberikan," ucap Hilmi.

Hilmi menyampaikan idEA percaya bahwa transparansi dan keseimbangan merupakan kunci agar platform tetap sehat dan penjual memiliki pilihan serta ruang untuk tumbuh dan bersaing.

Ia meyakini ekosistem e-commerce Indonesia perlu terus dibangun di atas prinsip keberlanjutan, kompetisi yang sehat, dan kolaborasi ke depan.

"Sehingga bisa menjadi fondasi ekonomi digital yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi para pemangku kepentingan," kata Hilmi.

sumber : Antara

Advertisement

Adblock test (Why?)


Biaya Admin e-Commerce Meningkat, Ini Penjelasan idEA
Sumber Eknomi

Cadangan Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton Dinilai RI Masuk Fase Swasembada Lebih Terukur

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Pekerja melakukan bongkar muat beras di Gudang Bulog, Komplek Pergudangan Sunter Timur, Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Jakarta, Selasa (7/4/2026). Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengungkapkan kondisi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang bulog aman untuk kebutuhan selama 11 bulan kedepan dalam menghadapi El Nino Godzila. Kondisi stok beras saat ini di gudang Bulog mencapai 4,5 juta ton dan akan bertambah 5 juta ton pada akhir April mendatang, serta stok beras swasta 12,5 juta ton dan diprediksi ada tambahan panen 2 juta ton per bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Capaian cadangan beras nasional yang kini menembus lebih dari 5 juta ton dinilai menjadi penanda penting bahwa Indonesia mulai memasuki fase baru menuju swasembada pangan yang lebih nyata dan terukur.

Menurut anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan mencerminkan kemampuan negara dalam membangun ketahanan pangan nasional berbasis produksi dalam negeri.

“Ada kegelisahan yang dulu sering muncul setiap kali bangsa ini berbicara soal beras," kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (10/5/2026), 

Bukan karena Indonesia tidak memiliki sawah atau petani tidak bekerja keras, tetapi karena negara sering datang terlambat dalam memastikan hasil panen benar-benar memberi manfaat bagi petani.

Dia mengatakan, selama bertahun-tahun masyarakat kerap mendengar istilah “stok aman”, tetapi kondisi itu belum tentu dirasakan langsung oleh rakyat, terutama dalam menjaga stabilitas harga di tingkat pasar.

Namun, menurut dia, situasi saat ini mulai menunjukkan perubahan yang lebih konkret.“Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup panjang, kalimat stok aman mulai menemukan bentuk yang lebih jujur. Bukan sekadar angka, tetapi angka yang memiliki makna,” ujarnya.

Azis menjelaskan, cadangan beras nasional yang dikelola Perum Bulog kini telah melampaui 5 juta ton. Dalam dua tahun terakhir, jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat.

Pada saat yang sama, penyerapan gabah dan beras petani dalam negeri hingga April 2026 telah mencapai sekitar 2,3 juta ton setara beras. Produksi nasional juga meningkat menjadi sekitar 34,69 juta ton pada 2025 atau naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Angka-angka ini penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana membacanya," kata dia mengingatkan.

Advertisement

Adblock test (Why?)


Cadangan Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton Dinilai RI Masuk Fase Swasembada Lebih Terukur
Sumber Eknomi