Pages

Friday, April 24, 2026

Dana Institusi Dorong Pergerakan Harga Bitcoin

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Bitcoin (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global belum mereda dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah situasi ini, pasar kripto justru menunjukkan ketahanan yang ditopang oleh arus dana institusional.

Harga Bitcoin kembali menguat mendekati 79.500 dolar AS pada Rabu (22/4), setelah sempat terkoreksi ke kisaran 74.000 dolar AS di awal pekan (20/4). Penguatan dipicu arus masuk dana institusional yang tetap solid, tercermin dari akumulasi pada produk spot Bitcoin ETF sekitar 250,22 juta dolar AS sepanjang pekan dengan total mencapai 57,95 miliar dolar AS.

Kenaikan terjadi saat ketegangan meningkat setelah Iran menolak melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat. Situasi ini menegaskan pergerakan Bitcoin tidak hanya dipengaruhi sentimen risiko global, tetapi juga kekuatan permintaan jangka panjang.

Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, penguatan Bitcoin mencerminkan perubahan struktur pasar yang semakin didorong investor institusional. Menurut dia, pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, tetapi juga oleh permintaan yang semakin konsisten dari investor institusional, yang terlihat dari arus masuk melalui produk spot ETF.

“Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini justru dimanfaatkan oleh sebagian investor sebagai momentum akumulasi. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi,” kata Antony, Jumat (24/4/2026).

Selain itu, dinamika kebijakan moneter Federel Reserve (The Fed) turut memengaruhi pasar. Ketidakpastian arah suku bunga di tengah inflasi yang belum stabil membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto, dalam jangka pendek.

Di sisi lain, aktivitas pasar derivatif juga mendorong harga melalui fenomena short squeeze. Banyak posisi jual yang terpaksa ditutup saat harga naik, sehingga meningkatkan permintaan dalam waktu singkat dan mempercepat penguatan harga.

Antony menilai, kombinasi faktor geopolitik, makroekonomi, dan teknikal membuat struktur pasar kripto semakin kompleks. “Bagi kami di Indodax melihat kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang perlu disikapi secara bijak. Sehingga, kami mengimbau agar setiap keputusan investasi tetap didasarkan pada pemahaman yang matang serta pengelolaan risiko yang terukur,” kata Antony.

Advertisement

Adblock test (Why?)


Dana Institusi Dorong Pergerakan Harga Bitcoin
Sumber Eknomi

Saatnya Kurangi Ketergantungan pada AS, Indonesia Didorong Perkuat Kemitraan Global Baru

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan lanskap geoekonomi dan geopolitik global yang kian mengarah pada sistem multipolar menjadi momentum bagi Indonesia untuk menata ulang strategi hubungan luar negeri secara lebih mandiri dan berdaulat.

Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, menilai kekuatan global saat ini tidak lagi terpusat pada satu negara dominan, melainkan menyebar ke berbagai poros baru.

“Momentum ini perlu dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara berdaulat yang mampu menentukan arah kebijakan ekonominya sendiri,” ujar Farouk dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).

Menurut dia, kecenderungan global untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat semakin nyata. Sejumlah pemimpin dunia mulai mendorong kemandirian strategis di tengah dinamika kebijakan domestik AS yang dinilai kerap memengaruhi arah global.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, misalnya, menyerukan agar negara-negara di Asia dan Eropa tidak terus bergantung pada kebijakan AS. Sementara itu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengingatkan pentingnya mempersiapkan skenario “the world minus one”, yakni dunia tanpa ketergantungan pada satu kekuatan utama.

Di kawasan regional, Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz juga menunjukkan sikap serupa dengan meninjau ulang kesepakatan tarif dengan AS, seiring dinamika hukum di negara tersebut, termasuk putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang menggugurkan kebijakan tarif era Donald Trump.

Farouk menambahkan, negara-negara Eropa mulai mengambil jarak strategis dari AS dalam sejumlah isu geopolitik. Di saat yang sama, Kanada memperluas kebijakan luar negerinya secara lebih independen, terutama dalam sektor perdagangan.

Selain itu, poros kerja sama non-Barat juga semakin menguat, terutama antara China, Rusia, dan Iran yang memperluas kolaborasi di bidang ekonomi, politik, hingga militer.

Dalam konteks tersebut, Farouk merekomendasikan agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hubungan ekonomi dan perdagangan dengan AS, sekaligus mengurangi ketergantungan struktural terhadap kebijakan ekonomi negara tersebut.

Ia juga mendorong penguatan kemitraan alternatif dengan berbagai negara, khususnya di sektor perdagangan, energi, teknologi, dan pertahanan. Selain itu, Indonesia dinilai perlu lebih aktif dalam kerja sama Selatan-Selatan dan blok ekonomi alternatif.

Rekomendasi lainnya mencakup peninjauan ulang kesepakatan tarif yang dinilai tidak menguntungkan, pengkajian kembali kerja sama strategis tertentu, serta penguatan prinsip politik luar negeri bebas aktif agar Indonesia tidak terjebak dalam rivalitas kekuatan besar.

Farouk menegaskan, langkah tersebut bukan bentuk konfrontasi terhadap AS, melainkan upaya menjaga kedaulatan nasional di tengah dinamika global.

“Momentum perubahan global harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mandiri, berdaulat, dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang,” ujarnya.

Adblock test (Why?)


Saatnya Kurangi Ketergantungan pada AS, Indonesia Didorong Perkuat Kemitraan Global Baru
Sumber Eknomi