Pages

Sunday, April 26, 2026

IHSG Diproyeksi Mendatar Pekan Ini, Pasar Cermati Kebijakan The Fed

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak mendatar selama perdagangan pekan ini (27-30 April 2026), dengan sentimen utama berasal dari tingkat global. Ratna mengatakan, pelaku pasar selama pekan ini akan mencermati arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara maju, diantaranya bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, Europan Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), hingga Bank of Japan (BoJ).

"Diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 7.000 pada pekan ini," ujar Ratna dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Selama pekan ini, pelaku pasar akan menantikan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting The Fed pada Kamis (29/4), yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5- 3,75 persen.

Kemudian, pelaku pasar akan menantikan pertemuan ECB dan BoE, yang masing-masing diproyeksikan juga akan mempertahankan suku bunga acuannya tetap di level 2,15 persen dan 3,75 persen.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati pertemuan Bank of Japan (BoJ) pada Selasa (28/4), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan tetap di level 0,75 persen, meskipun data inflasi di Jepang meningkat.

Selain arah kebijakan moneter bank sentral berbagai negara maju, Ratna mengatakan pelaku pasar juga akan mencermati berbagai rilis data ekonomi AS, diantaranya data consumer confidence, data perumahan, data Produk Domestik Bruto periode kuartal I-2026, personal income, personal spending, indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) Prices, serta ISM Manufacturing Index

sumber : ANTARA

Advertisement

Adblock test (Why?)


IHSG Diproyeksi Mendatar Pekan Ini, Pasar Cermati Kebijakan The Fed
Sumber Eknomi

Bos IEA Ungkap Perang Iran Bikin Dunia Makin Tinggalkan Minyak, Percepat Adopsi Nukir dan EBT

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Warga Iran berjalan di depan lukisan raksasa mengilustrasikan kapal di Selat Hormuz yang terpampang di Teheran, Senin (20/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyatakan perang Iran telah mengubah industri bahan bakar fosil secara permanen dan akan mempercepat peralihan menuju energi terbarukan, tenaga nuklir, serta elektrifikasi dengan mengorbankan permintaan minyak. Pernyataan tegas tersebut diungkapkan di tengah krisis minyak yang membuat harga Brent diperdagangkan di atas 105 dolar AS per barel, sementara pasokan fisik masih terbatas.

Dikutip dari Oilprice.com pada Ahad (26/4/2026), Birol mengatakan, kerusakan terhadap kepercayaan pada keamanan bahan bakar fosil bersifat permanen. Negara-negara yang terdampak gangguan di Selat Hormuz akan meninjau ulang seberapa besar risiko geopolitik yang bersedia mereka tanggung dalam sistem energi mereka.

"Persepsi mereka terhadap risiko dan keandalan akan berubah. Pemerintah akan meninjau strategi energi mereka. Akan ada dorongan signifikan terhadap energi terbarukan dan tenaga nuklir serta pergeseran lebih lanjut menuju masa depan yang lebih terelektrifikasi," ujar Birol.

Ia menambahkan, pergeseran tersebut akan "menggerus pasar utama minyak" dan menimbulkan "konsekuensi permanen bagi pasar energi global".

Birol juga mengingatkan Inggris terkait rencana pengeboran di Laut Utara. Menurut dia, langkah tersebut tidak akan memberikan manfaat langsung.

Bahkan, lanjutnya, proyek itu tidak akan menghasilkan minyak dan gas dalam jumlah signifikan selama bertahun-tahun dan "tidak akan memberikan perbedaan berarti terhadap krisis ini", kecuali untuk proyek tiebacks. Pesan bagi Inggris, ekspansi minyak dan gas "mungkin tidak masuk akal secara bisnis".

Sementara itu, JPMorgan berpendapat harga minyak mungkin perlu naik lebih tinggi untuk menekan permintaan. Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak di kawasan Teluk turun 57 persen dibandingkan tingkat sebelum perang.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kekurangan pasokan, bukan bukti bahwa sistem bahan bakar fosil sedang mengalami kemunduran. Birol menyebut krisis saat ini "lebih besar dari gabungan semua krisis terbesar sebelumnya". 

Advertisement

Adblock test (Why?)


Bos IEA Ungkap Perang Iran Bikin Dunia Makin Tinggalkan Minyak, Percepat Adopsi Nukir dan EBT
Sumber Eknomi