
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah tengah mengembangkan compressed natural gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram (kg) sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg.
Bahlil mengatakan penggunaan CNG saat ini telah diterapkan di sejumlah hotel, restoran, hingga beberapa dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang bahan bakunya diperoleh dari dalam negeri. Pemerintah kini mulai menyiapkan pengembangannya untuk kebutuhan rumah tangga.
“Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30–40 persen,” katanya saat menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, Sabtu.
Meski demikian, Bahlil mengakui pengembangan CNG masih menghadapi sejumlah tantangan. Namun, ia menyatakan pemerintah tetap mendorong pengembangan CNG demi efisiensi energi dan penguatan kemandirian energi nasional.
CNG atau compressed natural gas merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengompresi gas alam, terutama yang mengandung C1 atau metana dan C2 atau etana.
Gas tersebut disimpan dan didistribusikan menggunakan tabung bertekanan tinggi sekitar 200–250 bar (sekitar 2.900 hingga 3.600 psi).
Adapun tabung CNG dirancang memiliki tingkat ketahanan tekanan yang tinggi sehingga dinilai memenuhi aspek keselamatan dalam proses penyimpanan dan distribusi.
Kementerian ESDM mencatat konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun. Dari angka tersebut, hanya 1,6–1,7 juta ton yang diproduksi dalam negeri dan selebihnya dipenuhi dari impor.
Kementerian ESDM meyakini pengembangan CNG dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika krisis energi global, selain melalui optimalisasi lifting minyak dan gas bumi (migas), diversifikasi bahan bakar minyak (BBM) seperti pemanfaatan B50, serta diversifikasi LPG.
Bahlil Ungkap RI kembangkan CNG Sebagai Alternatif LPG 3 Kilogram
Sumber Eknomi
