Pages

Saturday, July 4, 2026

PLN Permak PLTU, Siapkan Penggunaan Batu Bara Kalori Rendah

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT PLN (Persero) mulai melakukan retrofit atau penyesuaian pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) agar mampu menggunakan batu bara berkalori rendah. Langkah tersebut ditempuh untuk memperkuat keandalan pasokan listrik sekaligus menyesuaikan pembangkit dengan perubahan komposisi produksi batu bara nasional.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan program retrofit dimulai di PLTU Suralaya Unit 6 dan 7. Hasilnya, pembangkit yang sebelumnya membutuhkan batu bara berkalori menengah hingga tinggi kini dapat beroperasi menggunakan batu bara dengan kalori lebih rendah.

"PLTU Suralaya 6 dan 7 tadinya menggunakan batu bara dengan kalori menengah ke atas, sekarang bisa menggunakan batu bara low rank coal atau batu bara dengan kalori sekitar 4.100 sampai 4.300, yang sebelumnya 4.600 sampai 4.800," kata Darmawan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Jumat (3/7/2026).

Ia menjelaskan kebutuhan retrofit muncul karena pasokan batu bara nasional mengalami perubahan. Produksi batu bara berkalori rendah terus meningkat, sedangkan produksi batu bara berkalori menengah hingga tinggi semakin berkurang.

Kondisi tersebut sempat memengaruhi keandalan sistem kelistrikan, terutama di Pulau Jawa. PLN kemudian memperkuat pasokan batu bara berkalori 4.500 ke atas bersama Kementerian ESDM sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang melalui penyesuaian spesifikasi pembangkit.

"Produksi batu bara yang dengan kalori 4.500 ke atas semakin hari semakin menipis. Sedangkan produksi batu bara dengan kalori rendah semakin hari semakin membesar," ujarnya.

Keberhasilan retrofit di PLTU Suralaya menjadi dasar bagi PLN untuk memperluas program serupa ke pembangkit lain. Perseroan telah memasukkan rencana tersebut ke dalam kajian kelayakan proyek, rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2026, serta rencana jangka panjang perusahaan.

Program itu akan diterapkan di pembangkit milik PLN Indonesia Power maupun PLN Nusantara Power. Tujuannya agar pembangkit lebih fleksibel memanfaatkan batu bara yang tersedia di dalam negeri tanpa mengurangi keandalan pasokan listrik.

"Nah, suksesnya retrofit di Suralaya 6 dan 7, saat ini langsung kami melakukan kajian kelayakan proyek di seluruh pembangkit PT PLN (Persero). Keberhasilan ini kami scale up di seluruh pembangkit milik PLN," ucap Darmawan.

PLN menilai penyesuaian tersebut menjadi solusi jangka panjang untuk menghadapi perubahan karakteristik produksi batu bara nasional. Perseroan juga terus memperkuat sistem kelistrikan melalui pengembangan pembangkit baru dan berbagai program peningkatan keandalan.

Langkah retrofit diharapkan mencegah persoalan serupa kembali terjadi pada masa mendatang. Upaya tersebut juga mendukung ketahanan energi nasional dengan memanfaatkan sumber daya batu bara domestik yang semakin melimpah.

Adblock test (Why?)


PLN Permak PLTU, Siapkan Penggunaan Batu Bara Kalori Rendah
Sumber Eknomi

Friday, July 3, 2026

Usia 40 Belum Terlambat Persiapkan Dana Pensiun, Begini Triknya

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Usia 40 tahun dinilai waktu yang tepat untuk mulai menyiapkan dana pensiun. Pada usia tersebut, seseorang masih memiliki waktu sekitar 17 hingga 20 tahun untuk membangun aset dan investasi sebelum memasuki masa pensiun.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) Panji Irawan mengatakan banyak masyarakat baru mulai memikirkan dana pensiun saat mendekati usia pensiun. Padahal, semakin awal persiapan dilakukan, semakin besar peluang memiliki kondisi keuangan yang lebih baik di masa tua.

“Kami sebentar lagi akan meluncurkan program Life Begins at 40. Kami melihat usia 40 tahun masih menjadi waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan masa pensiun,” ujar Panji dalam media gathering Bank Mantap di kawasan Ubud, Gianyar Bali, Jumat (3/7/2026) malam. 

Menurut Panji, secara ideal seseorang mulai berinvestasi sejak memiliki penghasilan pertama. Namun, ia memahami banyak orang baru dapat fokus menyiapkan dana pensiun setelah kebutuhan lain, seperti membeli rumah, menikah, dan membiayai keluarga, mulai terpenuhi.

Karena itu, usia 40 tahun dinilai menjadi momentum yang realistis untuk mulai menyusun strategi keuangan menjelang pensiun.

“Kalau mulai usia 40 tahun sampai usia pensiun masih ada sekitar 18 tahun. Waktu itu masih cukup untuk mempersiapkan diri,” katanya.

Panji menyarankan masyarakat mulai membangun aset yang mampu menghasilkan pendapatan pasif setelah pensiun. Salah satu instrumen yang dinilai relatif aman adalah Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, masyarakat juga dapat memilih reksa dana atau aset produktif lain sesuai profil risiko masing-masing.

“Yang paling sederhana kalau tidak punya waktu menjalankan usaha adalah berinvestasi. Salah satunya di Surat Berharga Negara karena risikonya relatif rendah. Reksa dana juga bisa menjadi pilihan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Selain mempersiapkan dana pensiun, Panji mengingatkan pentingnya memiliki perlindungan kesehatan. Menurut dia, biaya kesehatan cenderung meningkat seiring bertambahnya usia sehingga masyarakat perlu memastikan kepesertaan dalam program jaminan kesehatan.

“Khusus untuk kesehatan, pemerintah sudah memiliki BPJS Kesehatan yang menjadi salah satu perlindungan paling terjangkau. Di luar itu, masyarakat juga perlu mempersiapkan investasi untuk menopang kebutuhan pada masa pensiun,” katanya. 

Panji menambahkan, Bank Mantap juga mendorong calon pensiunan memiliki sumber penghasilan tambahan di luar uang pensiun bulanan. Penghasilan tersebut dapat berasal dari investasi maupun usaha yang telah dipersiapkan sejak masih aktif bekerja.

Menurut dia, persiapan yang dilakukan sejak jauh hari akan membantu masyarakat menjalani masa pensiun dengan kondisi keuangan yang lebih sehat sekaligus tetap produktif.

“Kami ingin para pensiunan bisa menjalani hidup lebih panjang, lebih bahagia, dan tetap sejahtera. Karena itu, persiapan pensiun tidak bisa dilakukan ketika sudah mendekati masa pensiun, tetapi harus dimulai sejak masih produktif,” ujar Panji.

Adblock test (Why?)


Usia 40 Belum Terlambat Persiapkan Dana Pensiun, Begini Triknya
Sumber Eknomi