Pages

Friday, June 5, 2026

Mengapa Menunda Investasi adalah Biaya Termahal dalam Hidup Anda?

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Dalam perjalanan menuju kemandirian finansial, banyak orang sering kali terjebak dalam pola pikir bahwa mereka harus menunggu 'waktu yang tepat' atau 'modal yang besar' sebelum mulai melangkah. Padahal, dalam dunia keuangan, ada satu musuh yang jauh lebih berbahaya daripada penurunan harga pasar, yaitu penundaan.

Menunda investasi saham bukan sekadar masalah kehilangan waktu, tetapi secara matematis, Anda sedang membayar 'biaya kesempatan' yang sangat mahal. Setiap hari yang Anda lewatkan tanpa membiarkan uang Anda bekerja adalah hari di mana kekuatan bunga majemuk atau compounding interest terbuang sia-sia.

Memahami Realita Inflasi dan Daya Beli

Kita hidup di dunia di mana nilai uang terus tergerus oleh inflasi. Jika Anda hanya menyimpan uang di bawah bantal atau di rekening tabungan biasa dengan bunga mendekati nol persen, secara teknis Anda sedang kehilangan uang setiap tahunnya. Harga barang kebutuhan pokok, biaya pendidikan, hingga properti terus naik.

Di sinilah investasi saham berperan sebagai tameng pelindung kekayaan Anda. Dengan memiliki saham, Anda sebenarnya memiliki porsi kepemilikan atas perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang dan jasa yang harganya naik karena inflasi tersebut.

Secara historis, pasar modal telah terbukti mampu memberikan imbal hasil yang melampaui angka inflasi tahunan dalam jangka panjang. Namun, keuntungan ini tidak datang dalam semalam. Keuntungan besar dalam saham adalah hasil dari kesabaran dan waktu.

Jika Anda memulai sekarang, Anda memberikan ruang bagi aset Anda untuk bertumbuh, jatuh, dan bangkit kembali hingga mencapai puncak yang optimal saat Anda membutuhkannya nanti, misalnya saat masa pensiun.

Psikologi Trading dan Pembelajaran Dini

Selain aspek akumulasi kekayaan, memulai lebih awal memberikan Anda keuntungan dari sisi edukasi. Melakukan trading atau investasi memerlukan kekuatan mental dan jam terbang.

Seseorang yang mulai belajar memahami dinamika pasar di usia 20-an dengan modal kecil akan memiliki ketahanan mental yang jauh lebih kuat dibandingkan mereka yang baru mulai di usia 40-an dengan modal besar namun tanpa pengalaman. Kesalahan-kesalahan kecil yang Anda buat saat ini adalah "biaya sekolah" yang sangat murah dibandingkan jika Anda melakukan kesalahan fatal saat hari tua nanti.

Dunia pasar modal tidak hanya tentang angka, tapi juga tentang mengelola emosi seperti ketakutan (fear) dan keserakahan (greed). Dengan terjun langsung, Anda belajar kapan harus bertahan dan kapan harus mengambil keuntungan. Pengalaman ini tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca buku atau menonton video tutorial; Anda harus merasakannya sendiri di lantai bursa digital.

 

Advertisement

Adblock test (Why?)


Mengapa Menunda Investasi adalah Biaya Termahal dalam Hidup Anda?
Sumber Eknomi

Thursday, June 4, 2026

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Pengusaha Bus Pariwisata Jabar Mulai Kurangi Operasional

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Pengusaha bus pariwisata di Jawa Barat bakal menghentikan sebagian operasional bus akibat dampak nilai tukar rupiah yang tembus Rp 18.000 per dolar AS. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pengusaha bus pariwisata di Jawa Barat bakal menghentikan sebagian operasional bus akibat dampak nilai tukar rupiah yang tembus Rp 18.000 per dolar AS. Mereka menyebut harga suku cadang kendaraan mengalami kenaikan yang berdampak pada tingginya biaya operasional bus.

"Bukan tidak akan beroperasi, akan tetapi menghentikan operasional beberapa armadanya karena imbas nilai tukar rupiah yang anjlok terhadap dolar AS sehingga berdampak pada kenaikan harga suku cadang kendaraan bus dan mengakibatkan biaya operasional bus menjadi tinggi," ujar Herdis Subarja, Sekjen Ikatan Perusahaan Otobus Pariwisata Jawa Barat, saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026).

Ia menuturkan para pengusaha bus pariwisata terpukul dengan kondisi rupiah yang tembus Rp 18.000 per dolar AS. Sebab, dampaknya menyebabkan harga suku cadang terus meningkat, sementara pendapatan semakin menurun.

"Pesanan atau order sewa bus pariwisata terus menurun sejak awal tahun 2026. Bahkan, kondisi belum pulih setelah pada 2025 Gubernur Jawa Barat melarang kegiatan study tour sekolah di Jawa Barat. Kondisi perusahaan bus pariwisata saat ini semakin parah," ungkapnya.

Herdis mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan tindakan nyata yang dapat membantu para pelaku usaha bus pariwisata. Salah satunya melalui penurunan atau penghapusan sementara PPN untuk barang tertentu seperti suku cadang kendaraan bus.

Selain itu, PNBP di bidang perizinan angkutan umum diharapkan dapat dihapus sementara atau digratiskan, termasuk penghapusan pajak kendaraan angkutan umum dan kebijakan lainnya. Apabila pemerintah tidak melakukan langkah taktis, ia khawatir dapat terjadi krisis seperti tahun 1998 yang menyebabkan banyak pelaku usaha kolaps.

"Saat ini pelaku usaha terpaksa bertahan dan saya tidak tahu sampai kapan mereka bisa bertahan," kata dia.

Herdis menambahkan pihaknya masih melakukan pendataan terhadap perusahaan bus yang mulai menghentikan sebagian operasional armadanya. "Kami semua menunggu tindakan pemerintah untuk mendukung eksistensi para pelaku usaha ini agar terhindar dari krisis yang nyata," kata dia.

sumber : Antara

Advertisement

Adblock test (Why?)


Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Pengusaha Bus Pariwisata Jabar Mulai Kurangi Operasional
Sumber Eknomi