Pages

Thursday, April 2, 2026

Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- PT Pertamina (Persero) memperkuat kerja sama dengan mitra internasional dalam pengembangan solusi energi rendah karbon melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan POSCO International Corporation.

Kesepakatan ini menjadi langkah strategis kedua perusahaan untuk menjajaki pengembangan dan potensi penerapan teknologi rendah karbon di Indonesia dan Korea Selatan.

Nota kesepahaman ditandatangani Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri bersama Kye-In Lee, Chief Executive Officer POSCO International di Korea Selatan, Rabu (1/4/2026) waktu setempat. Melalui MoU ini, kedua perusahaan akan mengeksplorasi potensi kolaborasi dalam pengembangan dan penerapan teknologi rendah karbon.

Khususnya, pada pengembangan Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS), pengembangan Blue Hydrogen/Ammonia, serta potensi kerja sama pada sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Penandatanganan MoU ini bagian dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan dalam rangka kerja sama bilateral antara kedua negara.

Menurut Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, melalui kerja sama ini, Pertamina terus memperkuat kolaborasi global dalam pengembangan teknologi rendah karbon sekaligus mendukung upaya percepatan transisi energi yang berkelanjutan serta memperkuat ketahanan energi nasional.

“Kolaborasi ini menjadi langkah penting Pertamina mempercepat pengembangan ekosistem teknologi rendah karbon di Indonesia dengan pemanfaatan teknologi CCS/CCUS, pengembangan hidrogen biru, hingga energi baru terbarukan yang diharapkan dapat mendukung target penurunan emisi sekaligus membuka peluang ekonomi karbon di masa depan,”ujar Simon.

Kerja sama mencakup kajian aspek teknis pada rantai teknologi rendah karbon, serta kajian non teknis untuk penerapan teknologi rendah karbon tersebut.

Sinergi dua perusahaan ini diharapkan dapat meningkatkan kerja sama bilateral dalam mencapai target penurunan emisi karbon, sehingga mendukung target pemerintah untuk Net Zero Emission (NZE).

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Seluruh upaya ini sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.

Adblock test (Why?)


Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon
Sumber Eknomi

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.002 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp 17.002 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.983 per dolar AS. (ILUSTRASI)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp 17.002 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.983 per dolar AS. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

“Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, pergerakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah,” ucapnya di Jakarta, Kamis.

Mengutip Anadolu, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa pihaknya akan meninggalkan Iran dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan.

Menurut angka resmi dari AS, terdapat 13 anggota militer AS telah tewas sejak perang dimulai. Konflik antara AS dan Israel dengan Iran juga mendorong kenaikan harga energi serta mempengaruhi pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting global untuk perkapalan minyak, dengan sebagian besar pengiriman komoditas tersebut melalui selat tersebut.

“Pernyataan Presiden Donald Trump memberikan tekanan tambahan terhadap pasar. Ketidakjelasan terkait akhir konflik serta masih terbukanya potensi eskalasi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” ungkap Amru.

Perhatian pasar tertuju pula pada rilis data ekonomi AS, terutama data ketenagakerjaan, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Di sisi domestik, penurunan inflasi Indonesia ke level 3,48 persen secara tahunan dinilai mencerminkan tekanan harga yang mereda dan menjadi faktor penopang stabilitas. “Langkah Bank Indonesia melalui instrumen seperti SVBI dan SUVBI turut menjaga likuiditas valas, meskipun dampaknya dalam jangka pendek masih kalah dominan dibanding faktor eksternal,” kata dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 17.015 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.002 per dolar AS.

sumber : Antara

Advertisement

Adblock test (Why?)


Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.002 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik
Sumber Eknomi