Pages

Sunday, May 24, 2026

Pekan Terakhir Mei 2026, Ini Proyeksi Pergerakan Harga Emas

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga emas diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung terkoreksi pada pekan terakhir Mei 2026. Pergerakan harga emas diprediksi berada di kisaran Rp 2,65 juta hingga Rp 2,9 juta per gram. Harga emas dunia tercatat ditutup pada level 4.506 dolar AS per barel pada akhir pekan ini. Adapun harga logam mulia ditutup di posisi Rp 2,77 juta per gram.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menuturkan secara teknikal, jika harga emas mengalami pelemahan, level support pertama berada di 4.414 dolar AS per troy ons dan level support kedua di 4.333 dolar AS per troy ons.

Kemudian untuk harga logam mulia, jika mengalami penurunan, level support pertama sebesar Rp 2,75 juta per gram dan level support kedua sebesar Rp 2,65 juta per gram.

Namun jika harga emas dunia mengalami penguatan, level resistance pertama berada di 4.606 dolar AS per barel dan level resistance kedua di 4.943 dolar AS per barel.

Sementara untuk harga logam mulia, level resistance pertama sebesar Rp 2,79 juta per gram dan level resistance kedua di Rp 2,9 juta per gram.

“Jadi harga logam mulia, support-nya Rp 2,65 juta per gram, resistance-nya adalah Rp 2,9 juta per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Ahad (24/5/2026).

Pada saat yang sama, indeks dolar AS diperkirakan masih bergerak di atas 100. Prediksinya, indeks dolar AS bergerak di kisaran 97,60 sebagai level support dan 101 sebagai level resistance.

Sementara untuk harga minyak mentah, kemungkinan besar pada pekan depan akan bergerak di kisaran level support sebesar 92,60 dolar AS per barel dan level resistance sebesar 105,5 dolar AS per barel.

Artinya, harga minyak mentah, terutama WTI, juga diperkirakan masih akan menguat.

Ibrahim menjelaskan terdapat beberapa faktor fundamental yang menyebabkan fluktuasi harga emas pada pekan depan. Faktor-faktor tersebut juga memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dan indeks dolar AS.

“Kita lihat fundamentalnya, yang pertama adalah masalah geopolitik. Geopolitik memanas kembali terutama di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina. Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah di Rusia,” kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, Ukraina melakukan penyerangan karena mendapatkan persenjataan dari pihak ketiga. Ia menilai terdapat indikasi konflik tersebut tidak akan berujung pada negosiasi atau gencatan senjata karena 20 persen wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia tidak akan dikembalikan.

Karena itu, perang diprediksi masih akan terus berlangsung.

“Di sisi lain, Ukraina juga banyak menguasai wilayah perbatasan dengan Rusia. Artinya, perang Rusia-Ukraina yang menyasar kilang-kilang minyak ini akan membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan. Makanya saya prediksi kemungkinan besar harga minyak ke 105,5 dolar AS per barel dan indeks dolar di level 101,” terangnya.

Sementara itu, perang di Timur Tengah dan wacana damai antara Iran versus AS-Israel dinilai masih belum jelas. Pembicaraan terkait negosiasi masih terus berlangsung dan ada secercah harapan karena Presiden AS Donald Trump menyampaikan nota kesepahaman mengenai kesepakatan perdamaian sebagian besar telah dinegosiasikan dengan Iran, terutama terkait pembukaan Selat Hormuz.

Namun, negosiator utama Iran sekaligus Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan kepada militer Pakistan bahwa AS tidak jujur.

Iran menuduh AS tidak menghormati hak nasional masyarakat Iran terkait pengayaan uranium. AS juga dikabarkan menolak nota kesepahaman mengenai hal tersebut.

Di sisi lain, Israel terus melakukan penyerangan terhadap Lebanon Selatan dan Jalur Gaza. Kondisi itu dinilai semakin memanaskan situasi di Timur Tengah yang membuat indeks dolar AS dan harga minyak masih bertahan di level di atas 100.

“Itu dari segi geopolitik. Kemudian dari segi kebijakan Bank Sentral AS, saya melihat salah satu yang paling menarik adalah pidato terakhir Presiden The Fed Thomas Barkin yang mengatakan kebijakan saat ini berada di posisi yang baik untuk menanggapi guncangan yang sedang berlangsung, sambil menambahkan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terkendali,” jelasnya.

Menurut Ibrahim, hal itu memberi secercah harapan bahwa hingga akhir tahun Bank Sentral AS akan menurunkan suku bunga apabila inflasi jangka panjang tetap terkendali.

 

Adblock test (Why?)


Pekan Terakhir Mei 2026, Ini Proyeksi Pergerakan Harga Emas
Sumber Eknomi

No comments:

Post a Comment