Pages

Sunday, June 21, 2026

FAO: Produksi Beras Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara, Keempat di Dunia pada 2025

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengutip data Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) yang menyebut Indonesia menjadi negara dengan produksi beras tertinggi di Asia Tenggara. Laporan juga menyebut, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam produksi beras setelah India, China, dan Bangladesh pada 2025.

"FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi yang tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh," kata Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Ahad (21/6/2026).

Namun, menurut dia, dari empat besar dunia tersebut, hanya China dan Indonesia yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan produksi beras yang positif. Sementara itu, jika dibandingkan antara perkiraan produksi beras periode 2025/2026 dan 2024/2025, Indonesia menjadi negara dengan kenaikan produksi paling tinggi di antara negara-negara produsen utama dunia.

Kenaikan produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta ton, jauh melampaui India sebesar 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh 1,1 juta ton.

Amran mengatakan perkembangan sektor perberasan Indonesia kembali memperoleh pengakuan dari FAO. Selain mengumumkan perkembangan produksi beras Indonesia, FAO juga melaporkan Indonesia mengalami peningkatan stok beras dan berhasil menjaga kestabilan harga di tingkat petani.

Dalam Food Outlook edisi Juni 2026, FAO melaporkan peningkatan stok beras di Indonesia menjadi salah satu faktor dalam menjaga stok cadangan beras dunia. Organisasi pangan itu juga memperkirakan stok beras dunia pada akhir periode 2026/2027 dapat mencapai 213,8 juta ton, yang merupakan rekor tertinggi kedua dalam 10 tahun terakhir.

Amran memastikan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara nasional yang dikelola Perum Bulog masih berada di atas 5 juta ton. Ia juga memastikan Indonesia tidak akan lagi mengimpor beras konsumsi.

"Stok (CBP) kita per hari ini, bulan Juni, berada pada sekitar 5,2 juta ton sampai hari ini dan stok kita aman. Tapi yang terpenting, sejak tahun 2025 tidak ada izin impor beras medium yang dikeluarkan sampai sekarang," katanya.

Ia bahkan meminta pihak yang masih meragukan melimpahnya stok CBP untuk melihat langsung ke gudang-gudang Bulog yang ada di berbagai daerah. Hal itu juga untuk membuktikan optimisme pemerintah terkait ketersediaan beras untuk kebutuhan dalam negeri.

"Kapasitas gudang Bulog hanya 3 juta ton. Tapi stok kita 5,2 juta ton. Artinya, Bulog hari ini menyewa gudang dengan kapasitas 2,2 juta ton. Jadi, yang belum yakin, silakan ke gudang Bulog di seluruh Indonesia," kata Amran.

Terkait stok beras, FAO memberikan proyeksi closing stocks dalam Food Outlook Juni 2026 yang memperkirakan stok beras Indonesia dapat mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026 dan meningkat menjadi 7,8 juta ton pada periode 2026/2027. Dengan demikian, peluang Indonesia sebagai eksportir beras dinilai semakin terbuka lebar.

"Dan satu lagi, beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Ini sudah dua tahun berturut-turut," ujar dia.

sumber : Antara

Adblock test (Why?)


FAO: Produksi Beras Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara, Keempat di Dunia pada 2025
Sumber Eknomi

Emas Pekan Depan Diprediksi Rp 2,55–2,79 Juta per Gram, Siap-Siap Investasi!

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

Pengunjung menunjukkan logam mulia Antam yang dibeli di Jakarta. Harga emas atau logam mulia terus bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian global. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga emas atau logam mulia terus bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian global. Pada pekan depan, harga aset safe haven tersebut diprediksi berada di kisaran Rp 2,55 juta hingga Rp 2,79 juta per gram.

Harga emas dunia pada akhir pekan ini tercatat berada di posisi 4.155 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia ditutup di level Rp 2,668 juta per gram. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi, jika harga emas terkoreksi, level support-nya pada Senin (22/6/2026) diperkirakan berada di angka 4.088 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia sebesar Rp 2,648 juta per gram.

Jika melanjutkan koreksi, level support kedua berada di angka 3.859 dolar AS per troy ons. Adapun harga logam mulia diperkirakan berada di level Rp 2,55 juta per gram.

Sementara itu, jika harga emas dunia mengalami penguatan, level resistance pertama diperkirakan sebesar 4.243 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia Rp 2,688 juta per gram. Apabila melanjutkan penguatan, level resistance kedua berada di angka 4.465 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia sebesar Rp 2,79 juta per gram.

“Jadi, harga emas dunia atau logam mulia sepekan ke depan adalah harga emas dunia di 3.859 dolar AS per troy ons sebagai support-nya dan resistance di 4.465 dolar AS per troy ons. Untuk logam mulia sepekan ke depan berada di kisaran Rp 2,55 juta hingga Rp 2,79 juta per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangan suara kepada wartawan, Ahad (21/6/2026).

Di samping itu, pergerakan indeks dolar AS diprediksi kembali menguat. Nilainya diproyeksikan berada di kisaran 99,2–101,7. Sementara itu, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.600–Rp 18.000 per dolar AS pada pekan depan.

Kemudian, harga minyak mentah dunia kemungkinan besar pada pekan depan diperdagangkan di kisaran 70–80 dolar AS per barel.

Advertisement

Adblock test (Why?)


Emas Pekan Depan Diprediksi Rp 2,55–2,79 Juta per Gram, Siap-Siap Investasi!
Sumber Eknomi