Pages

Saturday, June 20, 2026

Phapros Siapkan Strategi Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku Obat akibat Dolar AS

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

PT Phapros Tbk membukukan laba bersih Rp27,44 miliar sepanjang 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Phapros Tbk telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengatasi kenaikan harga bahan baku obat seiring dengan situasi geopolitik dan penguatan nilai dolar AS terhadap Rupiah. Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan SDM PT Phapros Ferdinand Troedu mengakui bahwa secara umum tidak hanya industri farmasi yang terdampak, tetapi hampir semua industri.

"Untuk Phapros, kami melihat dampaknya sudah ada dan memang terjadi, di mana sebagian bahan baku kami mayoritas masih impor," katanya, saat media gathering Phapros bertema "Merajut Harmoni, Menguatkan Kolaborasi", Sabtu (20/6/2026).

Ia menjelaskan bahan baku impor terbagi dua kategori, yakni langsung maupun tidak langsung, dan keduanya sama-sama mengalami kenaikan harga.

"Untuk mengatasi itu, kami menempuh berbagai cara, salah satunya yang langsung adalah renegosiasi atau reprofiling 'supplier' bahan baku," katanya.

Menurut dia, renegosiasi harga bisa ditempuh dengan skema kontrak "long term" atau jangka panjang maupun dengan meningkatkan volume kontrak.

"Yang kedua adalah kami juga mencari alternatif sumber pemasok yang lain. Jadi, jangan kami mencari pilihan alternatif supaya ada tawar menawar. Ketiga, kami melakukan efisiensi dalam hal produksi," katanya.

Namun, kata dia, efisiensi bukan berarti pengurangan produksi, tapi lebih kepada bagaimana bisa menekan biaya-biaya dengan proses produksi yang lebih efisien.

Sementara itu, Direktur Produksi PT Phapros Ida Rahmi Kurniasih menambahkan bahwa kebijakan Kementerian Kesehatan juga turut memberi ruang bagi industri farmasi menghadapi dampak situasi global belakangan ini.

sumber : ANTARA

Advertisement

Adblock test (Why?)


Phapros Siapkan Strategi Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku Obat akibat Dolar AS
Sumber Eknomi

Tak Cukup Hanya Ramai, HIPPI Ungkap Tantangan Baru Industri Pariwisata

Repost Ekonomi juraganluempang.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) menilai pemulihan sektor pariwisata perlu diikuti dengan peningkatan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal. Di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan, perhatian juga perlu diberikan pada penguatan nilai ekonomi yang dihasilkan di setiap destinasi.

Pengurus HIPPI Bidang Pariwisata dan Budaya (Kompartemen Strategic dan Riset), Rizanto Binol, mengatakan sejumlah destinasi wisata saat ini menunjukkan aktivitas yang semakin ramai. Namun, peningkatan kunjungan tersebut dinilai belum sepenuhnya diikuti dengan pertumbuhan pendapatan yang merata bagi pelaku usaha lokal.

"Pengunjung ada, tetapi pengeluaran tidak. Pertumbuhan tanpa keseimbangan hanya akan menimbulkan tekanan di bagian bawah. Situasi ini memperlihatkan adanya paradoks. Destinasi ramai, tetapi tidak semua pelaku usaha memperoleh dampak ekonomi yang sepadan," ujar Rizanto dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Menurut dia, perubahan pola konsumsi wisatawan turut memengaruhi kondisi tersebut. Wisatawan kini cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uangnya, memilih perjalanan yang lebih singkat, serta mengutamakan aktivitas dengan biaya yang lebih terjangkau.

Karena itu, HIPPI mendorong agar pengembangan pariwisata tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat nilai ekonomi yang dapat dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha di daerah tujuan wisata.

Rizanto mengatakan, ukuran keberhasilan sektor pariwisata perlu mencakup besarnya manfaat ekonomi yang dapat bertahan di daerah serta kontribusinya terhadap penguatan usaha lokal.

"Pariwisata Indonesia tidak boleh hanya ramai secara statistik, tetapi harus kuat secara ekosistem. Ukuran keberhasilannya adalah berapa besar manfaat yang tinggal di daerah, dirasakan pelaku usaha lokal, dan memperkuat budaya serta ekonomi masyarakat," kata Rizanto.

Untuk meningkatkan dampak ekonomi pariwisata, HIPPI mengidentifikasi sejumlah area yang dapat diperkuat. Salah satunya adalah peningkatan kapasitas dan daya saing pelaku usaha lokal agar dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari pertumbuhan kunjungan wisatawan.

Selain itu, pengembangan paket wisata tematik, kurasi produk kriya, serta integrasi UMKM kuliner dinilai dapat mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan meningkatkan pengeluaran selama berwisata.

HIPPI juga menilai keterlibatan pemandu wisata lokal, perajin, seniman, hingga komunitas adat penting dalam memperkuat daya tarik destinasi sekaligus memperluas manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.

Di sisi lain, transformasi digital bagi UMKM pariwisata dinilai perlu terus diperkuat, tidak hanya pada aspek promosi, tetapi juga pengelolaan usaha, reputasi digital, dan sistem pembayaran yang semakin mudah diakses wisatawan.

Menurut Rizanto, kekayaan budaya lokal juga dapat menjadi faktor pembeda yang memperkuat daya saing destinasi wisata Indonesia di tengah persaingan global.

"Pariwisata yang sehat bukan hanya pariwisata yang ramai, tetapi pariwisata yang menghidupkan usaha kecil, budaya, lapangan kerja, dan harapan masyarakat. Pembangunan pariwisata harus semakin berani bergeser dari pendekatan promosi menuju pendekatan ekosistem," ujarnya.

Adblock test (Why?)


Tak Cukup Hanya Ramai, HIPPI Ungkap Tantangan Baru Industri Pariwisata
Sumber Eknomi